
DEPOK, INFO KARO TANGERANG – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya akan membangun posko-posko donor darah di 100 mal. Dari 100 posko yang akan dibangun tersebut, lima di antaranya akan dibangun di malmal besar di Jakarta.
“Yang sudah dibuat di Senayan, sebentar lagi saya akan meresmikan di Tanah Abang. Diharapkan dari masingmasing mal akan didapatkan 50 kantong darah per hari,”ujar Kalla seusai memberikan kuliah umum kemanusiaan dalam seminar bertajuk “Relawan Penanggulangan Bencana: Menggerakkan Kekuatan Kepedulian Bangsa”di Gedung H Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Depok kemarin.
Selainmembangunposkodimal, lanjut Kalla, pihaknya juga akan membangun posko yang sama di universitas di Indonesia yang memiliki mahasiswa di atas 20.000 orang. Pembangunan posko tersebut untuk memenuhi stok darah di masing-masing daerah.“Jakarta sendiri kebutuhan darahnya sekitar 1.000 kantong sehari.Kalau di UI setengah mahasiswanya saja sudah dapat memenuhi kebutuhan Jakarta. Saya yakin di UI banyak yang akan mendonorkan darah,”paparnya.
Sebelumnya PMI kerap melakukan transfusi darah di dalam sel tahanan. Namun, belakangan ini hal tersebut agak dihindari karena darahyangditerimaPMIharussteril dan bebas dari HIV AIDS,sifilis,dan hepatitis.“Kita khawatir darah yang ditransfusi dalam penjara tercemar HIV AIDS karena banyak pengguna narkoba,”bebernya.
Kalla menuturkan,jika masingmasing PMI di seluruh daerah memiliki persediaan cukup darah, pihaknya tidak akan kesulitan dalam menanggulangi bencana yang memang memerlukan persediaan darah. Setiap terjadi bencana biasanya kebutuhan darah akan semakin meningkat sehingga harus disuplai di daerah lain.
“Seperti saat gempa Padang,unit PMInya rusak,suplai darahnya didapat dari Medan dan Palembang.Kalau di daerah stoknya kurang, bagaimana mau menyuplai daerah lain,” ungkapnya. Dia menyatakan, bencana terjadi dalam dua kategori yakni bencana yang akibat faktor alam dan faktor kesalahan manusia. Untuk menghindari besarnya jumlah korban saat bencana terjadi diperlukan edukasi kepada masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Faktor kultur sangat membantu mengurangi jumlah korban jiwa. Seperti saat gempa dan tsunami Aceh lalu ada pulau namanya Pulau Simelue yang korban jiwanya cuma enam orang, sementara di Banda Aceh jumlahnya sampai ratusan ribu orang.Ternyata penyebabnya, warga Simelue punya kultur kalau ada gempa lari ke tempat tinggi,sementara di Banda Aceh tidak,malah mereka lari ke pantai,”ungkapnya. (n/isa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar