Tampilkan postingan dengan label catatan MINGGU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan MINGGU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juli 2010

catatan MINGGU : Gundaling dan Kena Tilang Polisi






Objek wisata Gundaling yang terletak di kecamatan Berastagi, kabupaten Karo adalah satu dari sekian lokasi rekreasi unggulan taneh karo, banyak dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara. Menjelang hari libur, Gundaling selalu didatangi ribuan pengunjung. Dataran tinggi berupa perbukitan terletak diatas kota Berastagi ini merupakan tempat idola semua orang.

Pasalnya, dari sini semua pengunjung dapat menyaksikan panoroma alam Karo mulai dari kemegahan gunung Sinabung, gunung Sibayak hingga lembah daerah dingin ini. Jika tak ada kabut menghalangi pandangan mata seluruh wilayah kabupaten Karo, bisa terlihat sangat jelas dari lokasi ini.

Saban minggu puluhan kendaraan wisatawan dari berbagai daerah tumplek blek. Bahkan pengunjung memarkir kedaraan mereka disisi jalan menuju puncak Gundaling. Pasalnya, memang area parkir lokasi kebanggaan masyarakat Karo ini, tak memadai. Sehingga para pengunjung terpaksa meletakkan mobil mereka dipinggir jalan.

Setiap akhir pekan, ratusan kendaraan masuk kedalam area objek rekreasi ini. Petugas parkir pun sibuk mengatur lalu lalang kendaraan yang keluar masuk ke Gundaling. Tapi, pertanyaan muncul dalam benak penulis, apakah uang restribusi parkir itu masuk kas pemkab Karo ?. Gundaling memang objek wisata untuk melepas kepenatan. Udara daerah ini, cukup sejuk dan menyegarkan.

Selain itu, di Gundaling para pengunjung dapat mmenikmati pemandangan alam tanah Karo, dengan cara lesehan dari tenda-tenda besar yang telah disediakan pengelolanya. Setiap penyewa dikenakan ongkos sewa bervariatif Rp. 3000 - Rp. 6.000, tergantung besar kecilnya tenda. Puluhan kios souvenir pun berjejer menjual aneka pernak perniknya. Penyewa kuda keliling pun ikut meraup keuntungan bila musim libur tiba.


Namun, disayangkan wisata Gundaling tak memiliki papan rambu penunjuk arah jalan secara jelas. Tanda - tanda petunjuk arah wisata Gundaling hanya terdapat, saat menuju puncak dari pintu masuk restribusi. Setelah beberapa kilometer keatas, pengunjung harus mengandalkan, feeling dan indra penglihatannya saja.

Terlebih parahnya, sosialiasi perubahan jalan yang dahulu bisa 2 arah ke atas dan ke bawah menggunakan jalur sama , kini memutar melewati depan kantor Polsek Berastagi tak pernah diumumkan dengan selebaran atau papan petunjuk arah yang jelas.

Bahkan, penulis sendiri hampir terkena tilang oleh unit satuan lalu lintas (Lalin), yang katanya dari Polsek Berastagi. Sempat berdebat, menanyakan soal rambu lalu lintas yang seakan-akan menjebak pengunjung dari luar kota. Tepatnya, diturunan pertigaan dari atas Gundaling, anehnya disitu hanya terdapat rambu perboden yang letaknya berada menjorok kedalam sebelum pertigaan.

Semestinya, rambu perboden itu dipasang sesudah jalan pertigaan didepannya. Disana tak ada satu pun papan rambu penunjuk jalan menuju Berastagi. Cukup aneh memang, bahkan unit lantas dengan menggunakan mobil patwal berjenis sedan, sudah menunggu didepan sekitar 3oo meter di depan dalam jalan yang dikatakan bukan 2 jalur itu.

Inilah, kekurangan yang harus diperhatikan pihak berwenang disana. Karena Gundaling, objek wisata kebanggaan seluruh masyarakat Karo dan Sumut. Jika kekurangan ini, disengaja maka sangat disesalkan. Karena biasanya, disetiap objek wisata yang biasa saya kunjungi, rambu jalan penunjuk arah adalah salah satu sarana vital sebuah objek wisata.

Penulis : Isa Ikhwanta Ginting, SE (Pimpinan Umum / Redaksi Harian Online INFO KARO - tangerang)
Baca Selengkapnya...!!!!

Sabtu, 17 Juli 2010

catatan MINGGU : Legenda Lau Kawar


Legenda Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki wilayah seluas 2.127,25 km2 ini terletak di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara.


Oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Taneh Karo Simalem. Kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16 sampai 17C dan tanah yang subur. Maka tidak heran, jika daerah ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga-bunga anggrek yang indah, yang mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.


Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama ‘Kawar’. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini.


Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau. Apa sebenarnya yang terjadi dengan desa Kawar itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!
Pada zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah.


Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.


Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran ‘Gendang Guro-Guro Aron’, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.


Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya. “Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati. Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja.


Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.


Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahap dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahapnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon.


Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.
Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.


“Aduuuh…! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.


Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.


Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya.
“Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya. “Belum?” jawab istrinya. “Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami. “Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri.
Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu. “Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan!!.


Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya. “Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.


Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.
Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.


“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya.


Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.


Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama ‘Lau Kawar’.


Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawardari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.
Sumber: http://rapolo.wordpress.com
Baca Selengkapnya...!!!!