Jumat, 09 Juli 2010

info PROFIL : Sunardi Sempat Stress Tinggal di Pulau Berhala



DELI SERDANG, INFO KARO TANGERANG
-- Sunardi,46,tak pernah membayangkan akan tinggal dan bekerja di sebuah pulau terpencil yang terletak di wilayah terluar kepulauan Indonesia.Puluhan tahun dia berpisah dengan anak dan istrinya. 

WARGA Pasar 12, Marendal, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), ini mengaku telah bertugas di pulau terpencil seperti Pulau Berhala, menjaga dan menghidupkan lampu di menara suar sejak 1983. Selama 27 tahun bertugas di Pulau Berhala, berbagai kenangan, suka maupun duka, telah menghiasi kehidupan Sunardi.

Kepada Seputar Indonesiadi Pulau Berhala akhir pekan lalu, Sunardi menuturkan bahwa pertama kali ditugaskan di pulau terpencil sangat shock. Dia harus bertahan hidup di pulau yang tidak berpenghuni dan penuh kesunyian. Di situ dia hanya tinggal bersama tiga orang rekannya. Kawan Sunardi adalah sesama petugas navigasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk Menara Suar Distrik Navigasi Belawan Pulau Berhala.

”Dulu,waktu pertama saya bertugas tahun 1983, kondisi Pulau Berhala tidak seperti ini. Belum ada pasukan Marinir yang menjaga pulau ini.Saya hanya tinggal bersama rekan petugas navigasi,” ujar Sunardi. Pulau Berhala merupakan salah satu pulau dari 92 pulau terluar di Indonesia yang terletak di wilayah Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut.

Pulau seluas sekitar 45 hektare ini berbatasan langsung dengan Malaysia,berjarak 21,5 mil dari Tanjung Beringin atau 31 mil dari Pantai Cermin itu. Sunardi menuturkan, saat itu Pulau Berhala tidak pernah dikunjungi orang karena hutannya lebat. Pada pekan pertama ditugaskan di pulau itu pikirannya terus ingin kembali ke rumah. Namun tidak ada kapal yang bersandar ke pulau itu.

”Mau tak mau harus bertahan, meski kondisinya sangat sunyi dan sepi,”ungkapnya. Dia tak hanya ditempatkan di Pulau Berhala, tapi digilir setiap tiga bulan sekali. Pulau-pulau terluar yang pernah dia jaga lampu suarnya yaitu Pulau Pandang di Kabupaten Batubara,Pulau Nipah di Kepulauan Riau, Pulau Ujung Tamiang dan Jambu Aye di Aceh.

”Ini sudah 34 bulan, belum dipindah- pindahkan juga,” kata ayah empat anak ini. Pria yang hanya lulus SMA ini mengungkapkan suka dukanya bekerja di pulau terpencil.Tidak enaknya, kata Sunardi, suasana sepi, tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga dan tidak bisa bebas keluar karena tak ada alat transportasi. Enaknya tidak banyak keluar ongkos dan jam kerja tidak terikat.

Tugasnya hanya menjaga dan menghidupkan lampu suar. Untuk menghidupkan lampu menara suar di Pulau Berhala, Sunardi harus naik 758 anak tangga. Belum lagi naik ke menara suar yang tingginya mencapai 25 meter. ”Dibutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Inilah yang saya jalani setiap hari,” ucap Sunardi sambil menunjuk ke arah menara suar. Selama puluhan tahun bertugas dan harus meninggalkan anak-istri, Sunardi punya cara tersendiri untuk menghilangkan rasa jenuh.

Dia pun banyak beraktivitas.Mulai pagi dia mematikan lampu di menara suar,lalu bercocok tanam dan mencari penghasilan tambahan. Kini Sunardi betah tinggal di Pulau Berhala.Apalagi selain menjaga lampu suar dia beternak ayam dan bercocok tanam. Berbagai jenis tanaman yang dia tanam sudah berbuah kini.Ada kelapa,mangga, jeruk,ada rambutan. (n/isa) 

Baca berita lainnya di sini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar